Thursday, January 21, 2010

UGM SEBAGAI LINGKUNGAN BELAJAR

Nama : Rela Pambudi
NIM : 09/284555/KT/06464
Fakultas : Kehutanan

UGM SEBAGAI LINGKUNGAN BELAJAR
Lingkungan belajar menentukan kualitas belajar mahasiswa. Suatu lingkungan belajar yang didesain sedemikian rupa sehingga orang yang belajar merasa nyaman akan memberikan efek positif terhadap pengguna lingkungan tersebut. Berbeda dengan orang yang belajar di lingkungan yang kurang nyaman, kualitas belajar mereka kurang dibanding orang yang belajar di lingkungan yang nyaman. Hal ini disebabkan karena lingkungan yang nyaman akan membuat suasana hati orang yang belajar merasa senang sehingga saraf yang berada di otak yang berfungsi sebagai pusat masuknya informasi menjadi besar. Dengan ini informasi yang masuk ke otak akan lebih banyak apabila disbanding dalam keadaan normal.
UGM sebagai lingkungan belajar harus mampu menciptakan suasana yang senyaman mungkin bagi orang yang yang belajar di dalamnya. Keadaan ini bisa dicapai apabila ada interaksi timbal balik antara pengelola dan mahasiswa. Misalnya UGM memberikan fasilitas maka mahasiswa harus mampu memakainya semaksimal mungkin dan menjaganya bersama seluruh elemen kampus. Apabila hal ini terjaga dengan baik maka hubungan yang terjadi adalah simbiosis mutualisme.
Lingkungan belajar akan menjadi baik apabila tersedia fasilitas yang memadai untuk proses belajar mengajar. Fasilatas ini dapat meningkatkam mutu pendidikan. Fasilitas tersebut pun harus mudah untuk diakses mahasiswa, di samping jumlah dan kualitas yang kompatibel untuk sebuah universitas bermutu tinggi.
Sebenarnya, sejauh ini UGM telah cukup bagus dalam memenuhi fasilitas dari segi akademik. Menilik dari fakultas saya sendiri, yaitu kehutanan, kualitas lingkungan belajar dari segi fisik (fasilitas) ataupun dari segi atmosfer interaksi belajar sudah cukup menunjukkan bahwa UGM adalah kampus yang memiliki integritas tinggi dalam menghidupkan lingkungan. Dapat kita lihat sendiri bahwa banyak aktivitas diskusi mahasiswa yang menunjukkan bahwa UGM nyaman untuk dijadikan tempat untuk menjalankan siklus akademik.
Akan tetapi, seyogyanya kita melihat dengan teropong dua arah. Masih banyak cacat di sana-sini. Mungkin, apabila kita masih berada di lingkungan dalam kampus, suasananya masih baik-baik saja. Apabila kita telah keluar, seperti di daerah pinggiran luar kampus, sampah akan sangat banyak kita temui. Posisi kampus yang bertetangga dengan pemukiman penduduk, seharusnya bisa dikondisikan dengan baik agar tidak terjadi kerugian di salah satu pihak. Dialog dan pengelolaan bersama perlu untuk benar-benar direalisasikan, karena tak sedikit mahasiswa membuang sampah seenaknya, begitu pula penduduk yang tak sedikit mencemari aset dan tempat-tempat di dalam wewenang kampus. Tentulah hal ini akan sangat mengikis kenyamanan lingkungan.
Sebagai kampus yang melabeli dirinya sebagai kampus rakyat, alangkah bijaknya jika UGM menyediakan tempat dan fasilitas pembelajaran yang bisa diakses dan digunakan secara bebas oleh masyarakat umum. Dengan penambahan ruang publik yang sarat akan fasilitas pemnbelajaran tersebut, maka akan tercipta suatu fungsi kampus yang tidak hanya memberi ilmu pada mahasiswa, tetapi juga akan tercipta UGM yang akan membangun pola pemikiran kritis masyarakat, mendukung jiwa akademis rakyat luas, dan berjasa bagi rotasi ilmu bangsa.

Sunset in airport

Yogyakarta, 12 agustus 2017 So this is the end of my (another) journey Selalu ada alasan mengapa seseorang bepergian. Sering kali un...